Rabu, 07 Mei 2014

UJIAN HIDUP



Oleh : Hanif Hanani Tamjiz Putu Soeta
Siapa bilang ORANG HIDUP itu tidak rentan terhadap ujian dan cobaan siapapun orangny a tidak peduli jenderal, kopral, sopir juruparkir ,eksekutif, primitive, direktur, kondektor bahkan kyai ,guru ngaji atau selebriti,pegawai ,tukang sate,  pokoknya segala lini,lintas strata, segala situasi, yang namanya ORANG HIDUP  pasti ada cobaannya.
Yang kaya(Aghniya’) diuji dengan kekayaannya,kadang hidup boros, konsumtif, hedonism, setiap hari agendanya hanya show, makan-makan, hura-hura bahkan kadang-kadang hanya menghabiskan sisa usia di meja judi, meja bilyar atau meja-meja di discotic atau dunia generlap (Dugem).
Kaum menengah yang tidak borju, diuji dengan berlomba-lomba mencari jati diri, menambah pundi-pundi rejeki, angan angannya ingin punya mobil padahal  kreditan motor saja hampir saja diblokir, dompetnya penuh ATM, Kartu kredit yang hampir semua  bank punya, walau sejatinya kartu –kartu itu kosong dananya, angan-angannya menjadi  milyarder tetapi apesnya rejekinya cepak, dibawah satu meter.
Kaum miskinpun tak mau ketinggalan, hidupnya tidak lagi ditata , tidak mau kerja yang nyata, inginnya dapat harta, kadangkala mencari barang yang tidak resmi, ia tak lagi memikirkan untung dan rugi, semboyannya hanya kata pendek sekali, “Pokoknya saya senang”
Kadang dicoba pula dengan rasa bosan, pasangan hidup yang sejatinya lebih dari ideal, ia pandang hanya sebagai penghalang, kalau pergi harus selalu pamit ,ijin , pergi lama selalu dikontrol di chek sana-sini seperti BURONAN saja, tetapi itulah salah satu fungsi dari “suami istri” pasangan hidup yang mestinya selalu mengingatkan, menjaga, mengawasi agar tidak terjadi  tindakan yang menyimpang dari tradisi.
Anak-anak pun kadang jadi tidak terurus, mereka seolah dibiarkan hidup bak rumput liar, yang bisa tumbuh menjulang kemana-mana, tanpa arahan, tanpa teguran, apalagi bimbingan, orang tua yang mestinya patut menjadi tauladan, tetapi hanya menjadi pengatur yang Cuma ngingetin jadual  untuk makan,tidur, mandi dan gosok gigi, makanya anak-anak menjadi terlalu berani, ngenet sampai pagi , face bookan dan twiteran sepanjang hari.
Belajar dan sekolah hanya menjadi ritual semu tanpa prestasi, ia kepengin sekolah karena teman-temannya pada sekolah, belajar , no. Ia tau salah satu keuntungan anak yang mau sekolah, pasti dapat uang saku, uang jajan , uang les yang kadang habis untuk membeli pulsa, makanya kadang tubuhnya kurus karena asupan gizi tidak penuh, uang jajan yang mestinya untuk membeli keperluan perut , hanya dia gunakan untuk mengisi “Perut” HPnya , yang selalu lapar,kemudian sepanjang hari sibuk sms kesana kemari, mencari teman untuk diajak kolaborasi, masuk genk motor bikin sensasi, kebut-kebutan,kadang  menjadi joki, taruhan uang ,barang bahkan kadang dipertaruhkan pula pacarnya sendiri.
 Kapan situasi seperti itu dapat berjalan normal kembali, hidup ini perlu ditata, ibarat orang mau berwisata  mesti ditentukan kemana arahnya, kemana tujuannya, apa perbekalannya, hidup Cuma hanya sekali, kalau tidak berarti, hakekatnya sama dengan mati,
Rosululloh pernah ditanya oleh sahabatnya, “ Ya Rosul, manusia yang paling ideal  itu siapa? , rasul menjawab setiap orang yang  hatinya selamat atau bersih dan lesannya/ucapannya  benar, para sahabat bertanya lagi, kalau orang yang lisannya benar  kami sudah tau, tapi apa yang dimaksud dengan hati yang bersih atau hati yang selamat, maka jawab rosul, yaitu orang yang taqwa, bersih,tidak ada dosa sama sekali, tidak ada kedurhakaan , peng hianatan  , dan tidak mendengki.
Jadikanlah hidup didunia ini laksana orang asing, atau laksana penyeberang jalan
Sesungguhnya dunia ini laksana lautan yang luas dan dalam , banyak orang yang tenggelam dalam kedalaman laut itu, maka jadikanlah perahumu itu dalam rangka  taqwa pada Allah , maka engkau akan selamat sampai ke pantai keabadian, bertemu dengan Sang Pemilik Keadilan.
Salamkanci, Mei 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar